Suara Berwarna Merah..

Bangunan Tua

“BRUGG !!!” terdengar berulang – ulang suara itu, suara seperti benda yang dibanting – banting dari bangunan tua di dekat rumahku itu. Hampir setiap tengah malam suara itu terdengar. Ingin rasanya ku mencari tahu mendatangi bangunan tua tersebut, namun aku takut.

Ku terbangun ketika mentari sudah naik, “TIDAAAKK !!’ aku kesiangan. Ibuku tak membangunkanku rupanya. Membuatku kesal dan gelisah. Dengan cepat aku bergegas.

***

RUN RUN RUN !!!

Memakai sepatu dengan kecepatan 5 detik/sepatu dan GOO..O !!! Ku lihat jam ku menunjukkan pukul 06.45, waktu yang sangat sempit untuk membuatku tak terlambat menuju sekolah. Langsung ku naiki bis yang tengah melintas dihadapanku, perasaanku tenang karena sudah berada di dalam bus. Biasanya bis di sini hanya melintas pada jam – jam tertentu saja.

“lha ko jalur yang dilewati bus ini terasa asing ??” heranku. “Akh, sial..!!!’ ku salah naik bis, mungkin ini hari yang sangat sial untukku. Bis ini memberhentikanku pada sebuah halte. Ku tak pernah ke tempat ini sebelumnya. Sangat asing bagiku, ku hanya dapat berharap dapat menemukan arah balik dari bis yang ku tumpangi tadi.

Kendaraan melintas melewati halte tempatku terdiam. Aku terlalu banyak berfikir hingga ku tak tahu bagaimana cara kembali ke jalan pulang. Lalu ku putuskan untuk memberanikan diri mencari jalan pulang meninggalkan halte itu.

***

Dimanakah Aku Berada ???

Waktu sudah berlalu 2 jam sejak pertama aku turun dari bus yang membawaku ke tempat ini. Keringatu sudah sangat banyak terkuras. Kini ku sudah berada pada sebuah pasar. Pengap rasanya namun, di tempat ini mungkin ku dapat menemukan jalan menuju Roma, haha.

Ku lihat seorang pak tua yang tengah duduk sendiri, lalu ku dia. “Pak, mau tanya kalo di sini namanya daerah apa??” tanyaku pada pak tua itu. Dia menjawab “kalaupun saya tahu, saya takkan menjadi sekarang ini”.

Fiuhh, ternyata bukan aku saja yang tersesat. Semakin buat aku gelisah, jalanku ku percepat dan sekarang aku terhenti pada sebuah pasar di temat asing ini. Terlihat sebuah kantor polisi yang membuatku ingin mendatangi tempat itu.

“Tek tek tek tektekk..!!” suara mesi ketik itu, khas sebuah kantor polsi jika sedang menyidik seseorang yang sudah ku duga pasti orang itu penjahat. Lalu ku dekati pak polisi itu.

“Ada perlu apa dek??” Tanya pak polisi padaku dengan ramah. Lalu kuceritakan nasib malangku padanya dan ku tanyakan jalan pulang ke rumah ku tercinta.

***

Suara Itu

Berkat petunjuk sang polisi yang baik hati itu, aku sampai di rumah. Ibuku memarahiku karena sekolah memberitahukan ketidakhadiranku di sekolah. Namun ku sangat senang karena ku dapat berada di tempat sekarang ku berpijak ini.

Sangat lelah diriku ini, kini ku pergi menuju singgasanaku “huamp” seketika ku tertidur sperti orang yang tengah terhipnotis.

“BRUGG!!!” suara itu lagi, mengganggu dari dunia indah yang tengah ku rajut dalam lelapnya ku tertidur. “BRUGG!! BRUGG!! BRUGG…!!” akh telingaku sangat terganggu oleh suara itu. Kuambil bantal danku tutupi kepalaku dengan bantal itu. Lumayan membuatku tak mendengar suara itu lagi. Haha, akhirnya ku data tidur dengan nyenyak lagi.

Pagi dihari minggu dengan udara segar membuatku bersemangat, terfikir sesaat suara dimalam hari suara itu, suara misterius bagiku, suara yang selalu membuatku terbangun di tengah malam.

“tuutt tuutt tuutttt” wauw, mengagetkan saja suara handphone ku ini.Ad SMS ternyata.

5 – Sept – 10        05:35

Dari : teguh

Zar, ada di rumah tak???

Klo ada di rumah, nti gua

Mw k rumah lu..

Jam 8 nti gua dtg k rmh lu

Ternyata itu SMS dari temanku yang ingin berkunjung ke rumah ku. Sudah kangen rupanya fansku pada diriku ini.hahaha…

***

Sebuah Rencana Besar

Namaku Izar Alif, aku bersekolah di sebuah Madrasah Aliyah favorit di kota ini. Bogor kotaku. Aku duduk di kelas XII program IPA.

Hari ini temanku bernama Teguh akan ke rumahku. Dia teman SMP ku, ingat rasanya aku selalu meledek dia saat itu. Kami memang sangat dekat.

“tok tok tokk!!” , “Assalamualaikum” suara khasnya terdengar dari balik pintu rumahku. Ternyata dia sudah datang, cepat juga. “Zar, mana makanannya??”, baru saja datang sudah meminta makanan. Aneh rasanya melihat dia lagi, maklum lama tak jumpa dengannya.

Setelah berkangen – kengenan dengannya, aku menceritakan tentang aku, suara itu dan bangunan tua dekat rumahku. Lalu ku mengajak Teguh untuk ke tempat itu mala mini, mengajak Teguh menginap di rumahku, karena esok hari libur.

Setuju dengan ajakkanku, langsung saja kami membuat rencana untuk malam indah yang akan menjadi menegangkan. Menunggu waktu malam saja ku suadah terasa takutnya, tapi ku tak mau menjadi seorang pecundang begitu saja.

***

One, two, three and ACTION..!!!

Pukul 21:30 WIB. Orangtua ku sudah menyuruh kami untuk tidur, ku matikan lampu. Lalu ku berbincang dengan Teguh merangkai rencana yang akan lakkukan malam ini. Strategi sudah ku anggap matang untuk mengelabui orangtua ku agar kami dapat keluar rumah dengan leluasa menuju bangunan tua itu.

Ketika suasana sudah mendukung kami untuk melakukan tindak lanjut dari rencana dan strategi yang kami buat. Kami pun beragkat menuju bangunan tua itu. Aku dan temanku pergi melalui jendela kamar. Setelah berhasil keluar dari rumah, ku merasa takut untuk pergi ke tempat itu dan ingin kembali kedalam singgasanaku. Namun, apa boleh buat nasi sudah menjadi uduk. Jadi kulanjutkan saja.

“Ayo cepetan…tapi jangan sampe berisik” ucapku pada Teguh dengan pelan. “OKEH..!!..haha” jawabnya dengan keras seperti orang tak waras membuatku semakin tajut menuju bengunan tua itu. Rasa untuk mengurungkan niatku mencri tahu sumber suara misterius itu kembali muncul. Namun, Teguh tak ingin perjalanannya menjadi sia – sia. Jadilah aku lanjutkan kembali perjalanan yang membuat detak jantungku berdebar kencang dan semakin cepat.

Halaman banguan tua ini terlihat angker namun, ku lihat nyala lampu pada bangunan itu. Ternyata sepertinya ada yang mengisi bangunan tua itu. Semakin ku dibuat penasaran oleh bangunan tua itu. “BRUGG…!!!” terdengar suara misterius itu. Keringatku bercucuran ku terpaku takut untuk melakukan rencanaku untuk mencari suara misterius itu. Namun Teguh berkata lain, dia semakin bersemangat.

Aku berjalan di belakangnya sembari memgang baju yang ia kenakan. Andai ku seperti Teguh yang pemberani, mungkin ku takkan memalukan seperti sekarang ini.

***

Akhir Sebuah Cerita

Teguh membuka pintu itu, bangunan tua misterius itu. Bangunan tua ini seperti ada yang menghuni jika dilihat dalam banguna tua ini berisikan barang – barang yang terlihat masih digunakan dan juga nyala lampu bangunan itu semakin membuatku yakin. “BRUGGG..!!!” semakin keras, suara tersebut berulang – ulang terdengar. Buatku menggila, buatku semakin takut. Semakin ku masuk kedalam semakin keras terdengar suara misterius itu.

Kami melihat sebuah pintu, sepertinya ada bayangan orang yang sedang membantingkan sesuatu ke mejanya dengan sangat keras.

“Siapa di sana??” , orang yang membantingkan sesuatu itu rupanya sadar akan kehadiran kami dalam bangunan ini. Kami tertangkap basah olehnya, dia seorang kakek tua yang tampak lelah. Dia tersenyum lembut pada kami, senyuman yang baru ku temukan.

Kami menceritakan kedatangan kami karena suara yang ia buat pada tiap malam hari. Lalu dia membawa kami pada ruangan tempat dia mengeluarkan suara yang kuanggap misterius itu.

Ku lihat sebuah adonan di atas meja, ternyata asal suara itu dari adonan roti yang ia banting – banting ke meja itu. Katanya agar dapat tercampur dengan mudah. Mungkin karena pada malam hari dan rumahku dekat dengan bangunan tua ini, sehingga suara itu terasa keras di telingaku.

Lega rasanya karena bukan hal yang kutakuti suara misterius itu berasal.

Lusa hari dari hari ku bertemu dengan kakek tua itu..

    Ketika ku keluar dari rumahku, banyak polisi ada garis polisi di pasang di bangunan tua itu. Aku tak tahu apa yang tengah terjadi.

Ku dekati tempat itu yang tengah dikerumuni oleh banyak orang.

Ternyata kakek tua itu mati bunuh diri, terlihat warna merah pada dindig kaca itu. Semua itu membuatku menangis. Baru – baru saja ku melihat senyuman itu, dan kini sudah berwarna merah karena darah yang bercucuran oleh pisau yang dia akai untuk memotong nadi pada tangannya.

Dan kini ku tak mendengar suara itu lagi, suara yang misterius. Samai aat ini tak tahu pasti penyebab ia bunuh diri. Ku masih teringat akan senyuman ia ketika memerogoki aku dan Teguh masuk ke rumahnya tanpa izin.

[ T A M A T ]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s